Memahami Anak Hiperaktif

Yang dimaksud dengan hiperaktif adalah suatu pola perilaku pada seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian dan impulsif (bertindak sekehendak hatinya). Anak hiperaktif selalu bergerak dan tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan yang disukai oleh anak-anak lain seusia mereka, dikarenakan perhatian mereka suka beralih dari satu fokus ke fokus yang lain. Mereka seakan-akan tanpa henti mencari sesuatu yang menarik dan mengasyikkan namun tidak kunjung datang.  Hiperaktif juga mengacu kepada ketiadaannya pengendalian diri, contohnya dalam mengambil keputusan atau kesimpulan tanpa memikirkan akibat-akibat terkena hukuman atau mengalami kecelakaan. Ada tiga tanda utama anak yang menderita ADHD, yaitu: Tidak ada perhatian; Hiperaktif, mempunyai terlalu banyak energi; dan Impulsif, Bertindak tanpa dipikir atau berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu akibatnya.

  1. A.    Saran

Mengelola anak hiperaktif memang butuh kesabaran yang luar biasa, juga kesadaran untuk senantiasa tak merasa lelah, demi kebaikan si anak. Beberapa hal berikut dapat dijadikan pedoman dalam menangani masalah anak hiperaktif :

1 . Lakukan Observasi Sederhana

Diagnosa pasti apakah seorang anak termasuk hiperaktif atau tidak, harus melalui pemeriksaan ahli seperti dokter atau psikolog. Namun, orang tua bisa melakukan prediksi melalui observasi sendiri. Ciri-ciri gangguan hiperaktivitas sebenarnya baru terdeteksi jelas saat anak berusia empat tahun atau di usia-usia awal sekolah. Namun, tak masalah bila orang tua sudah melakukan observasi sejak si kecil berusia batita.

Jika orang tua memiliki kecurigaan si kecil mengalami gangguan hiperaktivitas,  jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Sebaiknya amati terus perkembangannya dan bandingkan dengan anak sebayanya. Sangat baik bila kita berkonsultasi pada psikolog anak. Kalau didiamkan, anak dengan gangguan hiperaktivitas bisa tumbuh menjadi pribadi yang cepat bosan, jenuh, pencemas, tidak pernah menyelesaikan tugas, antisosial, dan sebagainya.

2. Terimalah kondisi anak

Inilah hal pertama dan terpenting yang perlu dilakukan orang tua. Bila sudah dapat menerima kondisi anak, orang tua akan lebih baik dalam melakukan penanganan selanjutnya. Sadari bahwa anak bukan ingin seperti itu melainkan kondisi otaknya yang sudah demikian sehingga muncul perilaku yang kurang positif.

Orang tua penderita pun disarankan untuk tidak menyimpan permasalahannya sendiri. Curhat pada seseorang yang dianggap bisa membantu, meski sekadar untuk mendengarkan cerita, sedikit banyak dapat meringankan beban masalah. Curhat terkadang bisa menjadi sarana cooling down bagi orang tua sehingga tindakan yang dilakukan lebih lanjut bisa berjalan dengan lebih baik.

Kerja sama antara suami-istri harus dijalin dengan baik agar anak dapat tertangani dengan baik. Akan sangat membantu bila anggota keluarga lain, seperti kakek-nenek atau kerabat lainnya memahami apa yang kita hadapi.

 3. Perbaiki perilaku anak

Hal lain yang perlu penanganan segera adalah perilaku anak yang destruktif agar perilakunya lebih terarah. Untuk ini tentu diperlukan bantuan ahli seperti psikolog. Pada umumnya, saran yang diberikan ahli adalah menyalurkan energi anak pada kegiatan-kegiatan positif yang ia sukai. Bila bosan, ganti dengan yang lain lagi. Intinya, usahakan energinya habis untuk kegiatan yang positif.

 4. Terapi

Bila gangguan yang dialami tergolong parah, biasanya akan dilakukan terapi perilaku, seperti terapi psikososial, educational therapy, occasional therapy, dan psikoterapi. Dalam terapi seperti itu anak akan diajarkan perilaku mana yang boleh dan tidak. Obat-obatan sedapat mungkin dihindari karena memiliki efek samping, seperti mengantuk, nafsu makan berkurang, sulit tidur, tik (semacam kedutan), nyeri perut, sakit kepala, cemas, perasaan tidak nyaman, serta menghambat kreativitas.

Pemberian obat dalam jangka panjang juga bisa menimbulkan efek negatif pada sistem saraf, yakni menyebabkan ketergantungan obat, bahkan sampai ia dewasa. Obat baru digunakan bila dalam kondisi terpaksa.

 5. Sediakan sarana

Untuk mengantisipasi gerakan-gerakan anak dengan gangguan hiperaktivitas yang tidak bisa diam, sebaiknya ruangan untuk anak bermain dirancang sedemikian rupa agar tidak terlalu sempit serta tidak dipenuhi banyak barang dan pajangan. Hal ini untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diharapkan, seperti anak terbentur, tersandung atau bahkan memecahkan barang-barang berharga. Bila memang tersedia, halaman luas sangat baik untuk memberikan kebebasan bergerak bagi penderita.

 (ditulis oleh Tati-guru TKIT Al Fath)

4 thoughts on “Memahami Anak Hiperaktif

  1. Ass.. ibu tati, saya winda mahasiswi psikologi ingin bertanya seputar anak ADHD, apakah disekolah ini terdapat anak hiperaktif, saya memerlukan data untuk penelitian.. terima kasih ibu 😉

  2. Wow… Artikel yang menarik..
    Blognya juga keren..
    Salah satu cara menyelamatkan anak-anak
    Dari pengaruh-pengaruh yang kurang baik adalah…
    Melalui bidang PEndidikan dan Parenting
    Senang sekali ada orang yang peduli akan hal itu..
    Saya juga punya blog tentang anak-anak yang berisi:
    1. Lagu anak Pendidikan TK dan PAUD
    2. Dongeng Pendidikan Moral
    3. Tips Parenting
    4. Tips pendidikan kreatif
    5. Dan artikel2 menarik tantang dunia anak
    Silakan berkunjung ke http://lagu2anak.blogspot.com
    Salam kenal…Saya Kak Zepe. .
    Bila berkenan, mari bertukar link. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s